DULU, beberapa nama klub Bali cukup mentereng di ranah sepakbola tanah air. Seperti Persatuan Sepakbola Bali (Persiba), Kaprina, Indonesia Muda, Gelora Dewata, Perseden, Persekaba, Persegi Gianyar, dan Persegi Bali FC.
Pun dalam sejarah olahraga paling merakyat ini tercatat ada nama I Wayan ” Hanoman” Rantes, kiper terbaik PSSI Rayon tiga.
Ada lagi yang paling fenomenal, sayap kiri terbaik Asia pada zamannya, Abdul Kadir. Pria kelahiran Denpasar, 27 Desember 1948 silam ini di usianya yang belum genap 17 tahun ditarik ke skuad PSSI untuk memperkuat tim Indonesia di Games of New Emerging Forces atau Ganefo tahun 1965, di Korea Utara.
Kiprahnya bersama tim nasional tak usah diragukan. Pria mungil yang biasa dipanggil “Kancil” ini dikenal dengan kecepatan dan kelincahannya menggocek kulit bundar. Dia pun sukses melesakkan satu gol pada pertandingan melawan klub Santos, Brasil, yang diperkuat Pele, saat main di di Stadion Utama, Senayan, Jakarta.
Meski akhirnya timnas kita kalah dalam pertandingan yang berlangsung di tahun 21 Juni 1972, dengan skor 3-2, tapi Kadir membuat Pele berdecak kagum. Berkat kelihaiannya itu, Kadir juga sempat mencicipi liga profesional di beberapa Negara. Seperti Hongkong dan bergabung dengan tim Mackinnon Mackenzie.
Dia juga meneruskan kariernya sebagai pelatih. Kadir tercatat pernah sebagai pelatih nasional bersama M. Basri dan Iswadi Idris. Dia juga mampu mengantarkan klub Krama Yudha Tiga Berlian nangkring di posisi ketiga kejuaraan antarklub Asia tahun 1986 silam. Sayang, di saat usia uzur, dia terkena penyakit gagal ginjal dan akhirnya berpulang.
Selain Si “Kancil” pemain Bali yang bersinar di kancah nasional di antaranya ada Nyoman Oka dan Nyoman Selamet Witarsa yang membela Persebaya. Generasi berikutnya ada Made Manalika, pemain Kaprina Bali itu dipanggil PSSI Garuda untuk mempertajam lini depan timnas.
Sayang, prestasinya terganjal nasib. Manalika mengalami kecelakaan lalu lintas, cedera permanen tangan kiri patah. ” Sekarang Manalika kerja di sebuah bank perkreditan dekat Kapal, Badung. Juga main di klub (Putra Kapal),” kata Mamak Abdullah, tokoh bola Bali yang mengetahui perjalanan liku liku si kulit bundar di Pulau Dewata ini.
Nah, untuk klub profesional, yang paling menonjol tentu Gelora Dewata, di tahun 1980-an akhir. Tim ini berhasil bertengger sebagai runner up piala liga setelah kalah tipis 1-0 melawan Pelita Jaya di Jakarta.
Pun begitu, saat berlaga dalam Winners Cup Asia, menjamu Perak FC, Malayisa. Gelora Dewata menang 2-0 atas tim negeri jiran itu. Sayang, muncul keteledorn tidak mendaftarkan legiun asing (Vata Matanu Garcia, Campos dan Jeremy) yang berbuah Gelora Dewata didiskulifikasi.
Klub ini sendiri akhirnya pindah home base ke Sidoarjo, Jatim dan berganti nama jadi Delta Putra Sidoarjo (Deltras). Dari sana bakat pemain Bali naik pamor. Seperti Rai Bawa, Ida Bagus Mahayasa, I Made Pasek Wijaya, maupun Wayan Sukadana.
Di awal 1990-an Bali juga memiliki pemain hebat, macam Alexander Saununu yang pernah merumput sebagai striker di Pelita Jaya dan Barito Putra. Sepuluh tahun berselang, geliat bola di Bali sempat vakum. Sebelum akhirnya, di tahun 2000-an.
Perseden Denpasar waktu itu berhasil menembus divisi satu untuk selanjutnya melaju ke divisi utama. Disusul Persegi Gianyar, dan saudara bontot mereka, Persekaba Badung bertengger di divisi satu. Suporter pun mulai berkembang. Laskar Catur Muka (Perseden), Kuda Jingkrak(Persegi), dan Laskar Keris Badung yang jadi penyemangat Persekaba pun, mulai membludak jumlahnya.
Masa jaya kembali terulang. Bibit potensial pemain Bali pun makin tumbuh subur. Sayangnya, itu tak bertahan lama. Ketiga tim tak bisa melanjutkan kompetisi. Masalahnya klasik, akibat dana yang cekak.
Celakanya, Persekaba melakukan jalan pintas. Akibat utang yang melilit, klub tersebut malah dijual lisensinya ke Yakuhimo, Papua. Dengan nilai transaksi di bawah Rp 2 miliar.
Berakhir? Tidak juga. Sejatinya, gereget sepakbola di Bali berusaha dipertahankan. Made Sumer, mantan wakil Bupati Badung sempat memotori berdirinya Persegi Bali FC di divisi utama. Pun begitu, meski dibentuk yayasan untuk penggalangan dana.
Sayang, dalam perjalanannya Persegi Bali FC tetap harus “kolaps” karena hanya bermodalkan Rp 4 miliar, untuk operasional pun tak cukup. Ini sempat disiasati dengan menggunakan pemain lokal, Komang Adyana dkk, berikut pelatih asli Bali sendiri, Made Sony Kawiarda.
“Kalau semua komponen bola bersatu bersama pemerintah mendukung saya yakin bisa. Jangan hanya waktu pemilihan kepala daerah saja terlihat gregetnya. Saya yakin bisa, kok. Coba lihat daerah lain. APBD kecil, tapi kok bisa ? Itu karena besarnya kepedulian tokoh dan pemerintah, ” sebut Mamak yang notabene mantan pemain junior Perseden, yang kini pelatih Damar Sakti senior.
Meski tim ambruk, syukurnya para pemain asal Bali, meski terpencar masih diterima di banyak klub di tanah air. Itu tak lepas dari skill mereka yang bisa dikatakan bersaing dengan pemain nasional daerah lain.
Di antaranya bahkan masuk ISL, kompetisi sepak bola antar klub profesional tertinggi, yang diikuti 18 klub terbaik dengan format kompetisi penuh, home and away. Dimulai sejak 2008 lalu, di bawahnya ada kompetisi divisi utama, dan divisi satu. Digadang-gadangi mirip English Premier League liga terbaik dunia atau paling tidak bisa menyamai liga Jepang (J League) ataupun Liga Korea.
Sebut saja mantan Kapten Perseden di divisi utama, Wayan Sukadana, juga sempat berlabuh di Mitra Kukar, Kaltim. Dan kini membela PS Mojokerto Putra (PSMP). Klub ini sekarang lolos 16 besar Piala Indonesia (kejuaraan yang mempertemukan seluruh klub sepak bola dari empat tingkatan kompetisi Liga Indonesia yakni Liga Super Indonesia, divisi utama, satu, dan dua).
Kemudian, ada mantan pemain Persegi, Perseden, maupun Persekaba tergabung di Persiba Balikpapan, yakni, Muhamadan, Made Wirawan, dan Kadek Darma Putra. Lainnya, mantan gelandang serang Persekaba yang hijrah di Persela Lamongan ada Gangga Mudana dan Gede Sukadana. Sementara Johan Charles bersama kawan-kawannya berhasil memawab Persibo Bojonegoro, keluar sebagai juara divisi utama dan tembus Super Liga.
Komang Mariawan di Pro Duta divisi utama. Dan masih banyak lagi. Seperti Bayu Yusa ( Semen Padang), Made Wirahadi alias Binter di Pelita Jaya.
” Memang banyak pemain Bali membela klub, baik itu super liga maupun divisi utama dan satu. Kebanyakan sebagai pemain utama. Skill pemain kita (Bali) cukup diperhitungkan, di luar pulau, ” kata Sukadana.
Menurutnya, sebagai pemain profesional di Indonesia, sebetulnya yang didapat secara materi, cukup lumayan. Pria asal Denpasar itu merujuk kontrak di atas Rp 100 juta dengan gaji kisaran Rp 10 juta.”Secara materi di luar Bali memang lebih dihargai. Tapi ya sulit ketemu keluarga. Saya ini empat galungan tidak sempat pulang (dua tahun). Sekarang izin pulang ke Bali, karena ada odalan, ” ungkapnya.
“Memang kelemahan orang Bali, sulit merantau. Tapi, karena saya memang suka bola, ya saya jalani, ” imbuhnya. Pun dengan striker Pro Duta, Mariawan. Mantan pemain Persegi, itu menjatuhkan pilihannya di dunia bola. Awalnya, hanya ingin keliling Indonesia. “Kalau di luar, saya sembahyang seperti biasa ke pura-pura, ” ungkap mantan pemain Arema Malang dan Pupuk Kaltim yang kabarnya dibanderol untuk kontrak Rp 700 juta, di dua klub papan atas tanah air tersebut.
“Kalau kontrak sekarang ( Pro Duta) di atas Rp 100 juta. Gaji dan kontrak itu tergantung prestasi. Kalau bagus ya bagus hasilnya, ” sambung jebolan SMAN 5 Denpasar tersebut. Dari hasil kerjanya di dunia sepakbola. Dia sudah punya rumah, mobil, dan beberapa usaha.
Pria asal Banjar Gemeh, Denpasar, itu dia berusaha menabung untuk masa depannya. ” Rencana kalau tidak lagi main, ingin jadi pelatih, ” ucapnya. Keinginan itu pun sama dengan Sukadana. Dia juga punya arah tetap di bola, setelah karirnya mentok di pemain.
Sedikit beda dengan Ketut Cenik Ari Arsana, mantan bomber Persekaba, sekarang memilih membantu klub.” Saya sudah nanggung keluar merantau sudah umur, di bola cuma cari keringat saja. Ngayah istilahnya, memajukan sepakbola Kuta, ” jelas pria asal Kuta, kelahiran 34 tahun silam tersebut.Tim-tim yang pernah melamar Cenik, di antaranya Persebaya dan Persik Kediri. “Saya sempat dipanggil manajer Persebaya. Tapi saya jelaskan bola itu hobi saya. Pekerjaan saya mengurus hotel, ada hotel keluarga. Hotel Pujawan namanya, ” sebutnya.Dengan begitu, jadwal Cenik pun terbilang padat. Pun begitu, dia berusaha tetap meluangkan waktunya di bola, selain sibuk bisnis. ” Dulu, demi bola waktu di Gelora Dewata saya pikir bisa membagi waktu. Sampai kuliah di Warmadewa Fakultas Ekonomi tidak tamat, hanya sampai delapan semester. Saya sama Kadek Suartama ( pelatih Persegi) dulu, ” sambung suami Ketut Sriyasni ini. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan Nyoman Pujawan dan Nyoman Astiti ini tetap berharap sepakbola Bali, bisa bangkit.
Senada juga dilontarkan AA Ketut Brahmastra, anggota Satintelkam Poltabes Denpasar, yang sempat dilirik Perseden Denpasar, tapi batal karena cedera lutut kiri itu pun punya keinginan sama. “Kalau tidak bisa, ya pembinaan lebih ditingkatkan. Kalau bisa, Bali ini jadi bank pemain sepakbola. Jadi, banyak daerah mencari pemain ke sini, ” pungkas pria 27 tahun asal Padangsambian, Denpasar, yang kini menekuni profesi sebagai pelatih tim Kundalini tersebut.
JPNN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar