PSSI

PSSI
Indonesia

Selasa, 27 Desember 2011

Bepe_20

"I Live For This SH*T"

Penulis: bepe, 25 December 2011

Indonesia Vs Uruguay: Jum'at 8 Oktober 2010, Stadion Utama Gelora Bung Karno..
Salah satu hari yang cukup spesial dalam karir sepakbola saya. Saya katakan spesial karena pada hari itu saya mendapat kesempatan untuk bermain dengan tim sekelas Uruguay, yang 3 bulan yang lalu baru saja berhasil menjadi peringkat ke 3 Piala Dunia 2010. Lebih spesial lagi karena mereka datang dengan kekuatan penuh sama seperti ketika bermain di piala dunia 2010, hanya seorang Diego Forlan yang menghilang dari squad ketika itu..
Akan selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan serta membanggakan ketika kita dapat bermain dengan pemain-pemain level wahid di dunia. Karena dalam pertandingan-pertandingan seperti itu, kita dapat banyak belajar mengenai cara bermain, tak-tik serta strategi yang baik dan benar dalam sepakbola modern. Mengingat permainan sepakbola modern sendiri sudah berkembang dengan sedemikian pesatnya..
Seperti yang kita semua tahu, pertandingan itu sendiri berakhir dengan skor 1:7 untuk kemenangan Uruguay. Ketika itu publik mencaci maki permainan tim nasional yang mereka anggap sangat memalukan, masyarakat lupa jika tim yang kita hadapi saat itu adalah peringkat 3 Piala Dunia, tim yang kekuatannya tentu tidak sembarangan. Hal Itu terbukti  setelah 7 bulan kemudian, Uruguay mampu menjadi  yang terbaik di gelaran Copa America, menyisihkan Chile, Paraguay bahkan Argentina juga Brazil..
Selama bertahun-tahun bermain untuk tim nasional, saya sangat bersyukur karena banyak mendapat kesempatan untuk bermain dengan tim-tim hebat dari mancanegara, begitu juga dengan pemain-pemain kelas dunia. Akan tetapi sejujurnya pertandingan melawan Uruguay tersebut adalah salah satu yang paling berkesan bagi saya. Mengapa..?? karena terselip sebuah cerita bermakna di sebaliknya. Sebuah cerita yang mungkin sangat sederhana akan tetapi sarat akan makna. Sebuah cerita yang tidak dapat saya pungkiri mampu menyentuh sisi emosional saya sebagai pemain sepakbola, terlebih lagi sebagai pemain tim nasional Indonesia..
Dalam pertandingan itu satu-satunya gol Indonesia di cetak oleh Boaz T. E Salossa, memanfaatkan sebuah umpan terukur Bambang Pamungkas yang jatuh tepat di belakang Diego Lugano. Sebuah umpan yang membuat Boaz langsung berhadapan satu lawan satu dengan penjaga gawang Uruguay, yang malam itu di tempati oleh Juan Guillermo Castillo. Dengan satu gerakan saja, Boaz sudah mampu mengecoh Castillo dan menceploskan bola ke gawang yang sudah kosong..
Menurut saya malam itu saya sendiri tampil biasa-biasa saja, jauh untuk dapat dikatakan baik, akan tetapi tidak juga dapat dikategorikan sebagai buruk. Malam itu adalah untuk pertama kalinya saya bermain sebagai gelandang serang di tim nasional Indonesia, dan sialnya lagi lawan yang kami hadapi adalah tim sekelas Uruguay. Maka hasilnyapun sudah dapat ditebak, saya sering kehilangan bola dan salah mengantisipasi pergerakan lawan..
Satu hal yang paling mengejutkan adalah, 40 ribuan penonton yang hadir di stadion malam itu, menyoraki saya setiap kali saya menyentuh bola. Bahkan puncaknya terjadi di sekitar menit ke 60, ketika saya ditarik keluar dan digantikan oleh Yongki Aribowo, maka suara Booooo dari penonton menjadi background soundtrack yang mengiringi keluarnya saya dari lapangan malam itu..
Walaupun dalam konferensi pers setelah pertandingan kapten Uruguay Diego Lugano sempat mengatakan, jika menurut dia pemain Indonesia paling berbahaya adalah nomer 20. Akan tetapi itu sama sekali tidak merubah pendapat publik terhadap si nomer 20 itu sendiri, yaitu si tua pembawa sial untuk tim nasional Indonesia dan tidak pantas untuk tampil di Piala AFF 2010, yang akan di gelar 2 bulan kemudian..
Selama 11 tahun (Saat itu) saya membela tim nasional, ini adalah pertama kalinya saya mengalami peristiwa seperti ini. Jika hal tersebut terjadi di Kota Bandung misalnya, mungkin saya akan sangat memahaminya. Mengingat publik Bandung memang cukup membenci saya. Hal tersebut terjadi karena sebagai salah satu punggawa dari tim musuh bebuyutan Persib Bandung (Persija Jakarta), saya adalah pemain yang paling rajin mengoyak jala tim kesayangan mereka. Akan tetapi sangat disayangkan hal tersebut terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, tempat yang notabene menjadi homebase tim nasional dan juga homebase tim yang saya bela yaitu Persija Jakarta, tentu hal tersebut sangat mengecewakan..
Sejujurnya saya sangat tepukul malam itu, tidak pernah terbayangkan hal tersebut akan terjadi menimpa diri saya. Maka senyum kecutpun mengiringi keluarnya saya dari lapangan hijau menuju bangku cadangan, malam itu. Selama sisa pertandingan di bangku cadangan, beberapa kali tanpa sadar saya sempat termenung. Saya masih cukup syok dengan apa yang baru saja terjadi..
Setelah pertandingan Ayah saya beberapa kali menghubungi saya melalui telephon, akan tetapi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada ayah saya, saya memutuskan untuk tidak berbicara dulu dengan ayah saya malam itu. Dalam artikel (Late Show With Bambang Pamungkas - Agustus 2011) saya sempat menyebutkan, jika kritikus terpedas dalam karir saya adalah istri dan ayah saya sendiri. Maka dalam benak saya malam itu, saya merasa sangat tidak siap untuk berdiskusi mengenai permainan saya dengan Ayah saya. Ayah saya pasti akan banyak mengkritik saya, dan saya merasa tidak siap untuk beradu argumentasi mengenai  hal tersebut. Hal itulah yang mendasari keputusan saya untuk memilih tidak berbicara dahulu dengan ayah saya..
Karena keesokan harinya saya bersama tim nasional harus bergerak ke Bandung, untuk menjalani satu lagi pertandingan persahabatan, yaitu melawan Maladewa di Stadion Siliwangi. Maka malam itu pun saya habiskan untuk berdiskusi dengan Dewi istri saya, hingga larut malam. Mendengar saya di hujat penonton satu stadion, Dewi yang ketika itu juga berada di stadion sempat menangis. Dan untuk kesekian kalinya, malam itu Dewi meminta kepada saya untuk mundur dari tim nasional. Ketika itu saya sempat menyampaikan kepada Dewi bahwa ayah saya sempat menghubungi, akan tetapi saya tidak menjawabnya, karena merasa belum siap. Ketika itu Dewi berkata "Kenapa ngga diangkat, siapa tahu bapak ngga mengkritik tapi malah menyemangati", "Besok saja aku akan menghubungi bapak" jawab saya singkat..
Singkat cerita, keesokan harinya tim nasional pun bergerak dari Jakarta menuju Bandung. Dalam perjalanan menuju Bandung tersebutlah, saya merasa secara mental sudah cukup siap untuk berbicara dengan ayah saya. Setelah menarik nafas panjang beberapa kali, sayapun menekan nomer ponsel ayah saya, beberapa saat kemudian terdengar suara ayah saya dari seberang sana..
Dibawah ini adalah kurang lebih percakapan kami ketika itu:
Ayah: Hallo,, Assalamu alaikum..
Saya: Wa alaikum salam, semalam bapak telephon saya..?? Maaf pak lagi lumayan sibuk jadi tidak sempat angkat telephon bapak..
Ayah: Oh iya ngga apa-apa, semalam bapak hanya ingin bertanya kenapa bisa jadi begitu..?? Bambang Pamungkas yang semalam bapak lihat bukanlah Bambang Pamungkas yang ayah kenal selama ini..
Sayapun berkata dalam hati, "Nah mulai deh bla,, bla,, bla.. Sabar Bambang,, Sabaaarr"..
Saya: Iya pak lawannya juga Uruguay, susah sekali pak lawan mereka, ya harap dimaklumi lah kalo saya banyak bikin salah, apalagi saya main di posisi baru..
Ayah: Ya,, ya,, ya,, kamu memang beberapa kali melakukan kesalahan yang cukup mendasar, akan tetapi terlepas dari itu semua kamu juga berandil besar dalam terjadinya gol Boaz. Menurut bapak permainanmu tidak jelek..
Ucapan ayah saya tersebut membuat saya cukup terperanjat, bukan sebuah kebiasaan ayah saya memberikan pujian atau memberi penilaian positif dalam permainan saya. Sejurus kemudian ayah sayapun melanjutkan perkataannya..
Ayah: Apa yang bapak maksud bukan permainanmu..
Saya: Jadi..?? (Kata saya dengan nada penuh tanya)
Ayah: Akan tetapi perilakumu..
Saya: Haahh..?? Prilaku saya pak..?? (Tanya saya semakin heran)
Ayah: Mengapa saat kamu di ganti dan keluar lapangan kamu tidak mengucapkan terima kasih kepada penonton yang hadir di stadion..??
Saya sangat terkejut mendengar kalimat ayah saya tersebut dari seberang sana. Memang betul semalam ketika di ganti saya memang hanya berjalan lurus tanpa bertepuk tangan tanda terima kasih atas dukungan penonton yang hadir di stadion. Beberapa saat kemudian sayapun lanjut berkata dengan sedikit geram..
Saya: Bagaimana saya mau berterima kasih pak, sedang sepanjang pertandingan mereka menghujat saya. Wajarlah jika saya kecewa..
Ayah: Kamu pikir kamu pantas melakukan itu..??
Saya: Iya pak. Anak-anak ABG itu tidak mengerti, ketika mereka baru belajar berbicara dan mengeja kata G-O-L, saya sudah mencetak gol untuk Merah-Putih pak. Ini pertama kali sepanjang 11 tahun saya bermain untuk tim nasional dan ini bermain di Jakarta, lain cerita jika main di Bandung pak.. (Cerocos saya membela diri)
Ayah: Kamu pikir mereka akan peduli dengan apa yang kamu lakukan 2, 3, 5 atau 11 tahun yang lalu..?? Yang mereka tau adalah sekarang, bukan kemarin, minggu lalu apalagi tahunan yang lalu..
Saya: Tapi setidaknya mereka bisalah pak untuk sedikit menghargai saya..
Ayah: Ooooo,, kamu salah kaprah Mbang..
Saya: Maksud bapak..?? (Tanya saya dengan nada heran)
Ayah: Terlepas dari apapun teriakan mereka, kamu dan seluruh pemain harus tetap menghargai mereka, karena mereka datang ke stadion pasti dengan tujuan untuk mendukung kalian. Dan apapun alasannya kalian harus berterima kasih kepada mereka..
Seketika sayapun terdiam, kalimat ayah saya tersebut tepat menghujam ke relung hati saya yang paling dalam..
Ayah: Apalagi kamu adalah kapten sekaligus pemain paling senior dalam tim nasional, seharusnya kamu memberikan contoh yang baik bukan malah melecehkan penonton seperti itu..
Saya: Tidak ada sedikitpun niatan saya untuk melecehkan penonton pak, lagipula saya rasa tindakan saya semalam cukup wajar, dan saya rasa mereka juga tidak peduli pak.. (Jawab saya membela diri dengan bibir sedikit bergetar)
Ayah: Mereka mungkin tidak peduli, akan tetapi bapak peduli..
Saya: Jujur saya syok pak dan tidak tahu harus berbuat apa, saya merasa belum siap menghadapi situasi seperti semalam..
Ayah: Sepakbola itu tentang "Menghargai". Menghargai diri sendiri, menghargai teman, menghargai lawan, menghargai penonton dan juga menghargai permainan sepakbola itu sendiri secara utuh..
Saya: Iya pak, saya mengerti..
Ayah: Apalagi besok lawan Maladewa main di Bandung, bermain baguspun kamu pasti tetap di dicaci-maki, apalagi jika tampil buruk. Lupakan itu semua, mereka tetaplah pendukung Indonesia, hanya saja mungkin tengah mendukung dengan cara yang sedikit berbeda. Bapak tidak mau hal semalam terjadi lagi, bapak akan melihat dari layar TV..
Dan sekali lagi, saya hanya mampu berkata "Iya pak, saya mengerti"..
Hari itu 9 Oktober 2010, sisi emosional saya sebagai pemain sepakbola benar-benar di sentuh, mental saya sebagai pemain yang sudah satu dekade berlabel tim nasional disentil dan loyalitas saya terhadap profesi yang sangat saya cintai pun serasa tertampar. Bak seorang petinju yang menerima sebuah uppercut telak, saya pun tak berdaya menopang berat badan saya sendiri dan pada akhirnya roboh tersungkur menyentuh lantai, dengan sangat kerasnya..

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis demikian di akun Twitter saya:
@bepe20: Tahapan perjalanan karir seorang Pesepakbola: Debut --» Hah, Hei, Nah, Yeah, Wohoo, Mmm, Argh, Boo diakhiri dgn Tepuk Tangan --» Pensiun..
Maksud Tweet diatas akan coba saya perjelas sebagai berikut:
# Hah - Hah siapa ini..??
# Hei - Hei ini yang kemarin ya..??
# Nah - Nah ini dia nih..
# Yeah - Yeah that's my man..
# Wohoo - Wohoo he did it again..
# Mmm - Mmm kok gini sih..?? Ayo coba lagi..!!
# Argh - Argh gimana sih, bego amat..!!
# Boo - Booooo dia lagi-dia lagi, udah bisa diganti kaleeeee..!!
Tahapan-tahapan dimana seorang pemain sepakbola akan memulai debutnya, mulai dikenal dan menyita perhatian publik, menjadi idola dan dipuja-puja masyarakat, mulai diragukan dan diperdebatkan, hingga di caci maki serta pada akhirnya harus pensiun..
Sebuah tatanan proses yang menurut saya suka-tidak suka, rela-tidak rela dan ihklas tidak ihklas harus dilewati. Di butuhkan mental yang kuat untuk dapat melewati tahap demi tahap dengan mulus, baik di awal meniti karir, saat menjadi idola dan di Agung-agungkan, apa lagi ketika mulai di ragukan seta di caci-maki. Saya sendiri cukup paham dan sadar betul dengan kenyataan yang saya atau lebih tepatnya kami harus hadapi.
Dan sejujurnya kita tidak pernah dapat menyalahkan mereka para suporter. Mereka tidak akan pernah peduli dengan bertambahnya usia, kekuatan otot yang mulai berkurang, menurunnya stamina sehingga membuat akurasi dan determinasi secara otomatis juga tereduksi. Hal yang mereka pedulikan hanyalah penampilan terbaik dan hasil terbaik dalam setiap kesempatan. Dan sayangnya mereka memang berhak untuk berlaku demikian..
Dalam sebuah kehidupan, terkadang kenyataan memang tak seindah apa yang kita ingin dan bayangkan. Terlepas dari kegagalan demi kegagalan, kesalahan demi kesalahan, kebodohan demi kebodohan serta kekalahan demi kekalahan yang terjadi dalam karir saya, saya merasa sangat bangga dengan pencapaian saya sejauh ini. Karena setidaknya, saya telah mengahabiskan hari demi hari selama 12 tahun karir saya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik..
Terkadang saya  merasa kasihan kepada banyak orang di luar sana, yang menghabiskan waktu dan energi mereka hanya untuk menunggu, mencari serta pada akhirnya menghakimi kesalahan-kesalah yang diperbuat oleh orang lain. Terkadang saya berpikir, mengapa orang-orang tersebut tidak melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri,nuntuk kebanggan mereka sendiri, untuk kelangsungan hidup mereka sendiri dan juga untuk harkat dan martabat mereka sendiri..
"Setiap orang yang berusaha dan bekerja keras, suatu saat pasti akan melakukan kesalahan. Sedangkan mereka yang hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan, tidak akan pernah melakukan kesalahan"
Karena harus di ingat, definisi kesuksesan yang sebenarnya bukan berada pada penilaian dari orang-orang di luar sana, melainkan berada pada sejauh mana kita mampu memaksimalkan potensi pada diri kita untuk mampu mencapai sesuatu, dan hal tersebut hanya dapat dinilai oleh diri kita sendiri bukan orang lain. Karena pada akhirnya yang paling mengerti diri kita adalah diri kita sendiri. Demikian halnya yang paling mengerti sajuh mana potensi yang ada pada diri kita, jugalah diri kita masing-masing..
Maka mari bekerja keras untuk mencapai sesuatu, bukan untuk mengalahkan orang lain. Karena mungkin saja pada sebuah tahab, kita sudah mampu mengalahkan orang lain. Dan ketika kita sudah merasa puas dengan hal tersebut, maka kita hanya akan berhenti sampai disana saja. Padahal mungkin dengan potensi yang kita miliki, kita mampu melangkah lebih jauh lagi, bukan hanya sekedar mengalahkan orang tersebut. Jangan pernah terbelenggu dengan sifat iri, dengki, keki, benci serta dendam terhadap seseorang. Karena sejatinya hal tersebut hanya akan membatasi potensi serta ruang gerak kita untuk berkembang dan menjadi jauh lebih baik dari siapa diri kita saat ini..
"If I was able to walk upright under the blazing sun.. Then I should be able to do the same in the swiftness of rain.."
Karena, jika saya mampu berjalan tegak dengan senyum mengembang saat berada di puncak kesuksesan. Maka saya juga harus mampu, untuk berjalan tegak dengan senyum di bibir (Walau dengan sedikit kecut) saat saya berada pada tahapan sulit dalam karir saya. Karena itulah hidup, roda itu akan selalu berputar..
Mungkin pada saat ini, karir saya sudah pada tahap "Argh" atau mingkin malah "Booooo", akan tetapi yakinlah jika saya akan terus berusaha keras sekuat tenaga untuk berusaha membuat kalian semua sedikit tersenyum disela-sela teriakan "Argh" atau malah "Booooo" tersebut. Hal tersebut saya lakukan bukan untuk kalian, sama sekali bukan untuk kalian. Hal tersebut saya lakukan untuk kepuasan pribadi saya sendiri..
Dalam tahapan karir saya saat ini, saya tidak merasa perlu untuk membuktikan apapun kepada siapapun. Semua yang saya lakukan dan kerjakan saat ini, adalah murni karena pekerjaan dan kecintaan saya terhadap profesi saya tersebut, tidak lebih dan tidak kurang. Satu hal yang selalu ingin saya teriakan kepada kalian semua di luar sana, adalah:
Hey...!! My name is Bambang Pamungkas and "I Live For This SH*T"...!!!

Selesai..

Gereja Kelahiran Yesus : Pintu Kerendahan Hati – Bethlehem

Gereja Kelahiran Yesus : Pintu Kerendahan Hati – Bethlehem

Meskipun kita sering membayangkan Yesus lahir di sebuah kandang, gambaran tersebut berasal dari kartu Natal. Pada masa Israel kuno, binatang sering berlindung di gua, dan sejak dulu sekali dianggap bahwa Yesus sungguh lahir di sebuah grotto (grotto adalah gua alami atau buatan yang sering dihubungkan dengan penggunaan modern, historis atau pra-historis – dikutip dari wikipedia)… St. Jerome dalam tulisannya berbicara tentang alasan bahwa grotto nativity (gua kelahiran), sebenarnya, adalah tempat dimana Kristus lahir.
Sekarang tanda bintang perak di lantai menandai tempat dimana Kelahiran Yesus dirayakan. Bagian tengah bintang tersebut kosong, sehingga peziarah bisa menyentuh batu batu karang di titik ini. Bintang yang mirip juga ada di bagian atas Golgota, dimana Kristus disalib, di Gereja Makam Suci di Yerusalem, enam mil ke arah utara Bethlehem.
Dalam gambar suster yang sedang berdoa, anda bisa melihat dibelakangnya terdapat jalan menuju ke bagian atas Gereja Kelahiran Yesus (Church of Nativity), yang berada diatas grotto.
Gambar tersebut menunjukkan kerendahan hati dan kesucian, dua elemen yang menjadi tanda kedatangan Tuhan ke dunia.
Dalam pidato natal Urbi et Orbi (Untuk Kota dan Dunia), Paus Benediktus mengomentari grotto ini, ia berkata :
Saudara saudariku yang terkasih, mari kita mengarahkan pandangan kita kepada grotto Bethlehem. Seorang anak yang kita kontemplasikan adalah keselamatan kita! Ia telah membawa ke dunia pesan rekonsiliasi dan damai yang universal. Mari kita membuka hati kita padanya; mari kita menerima-Nya dalam hidup kita. Sekali lagi mari kita berkata kepada-Nya, dengan sukacita dan keyakinan :”Veni ad salvandum nos!” (Datanglah untuk menyelamatkan kami!)
Pada Misa Tengah Malam Natalnya, Paus juga berbicara tentang bagian lain dari Gereja Kelahiran Yesus di Bethlehem – pintu masuk utamanya, yang sangat pendek dan disebut sebagai Pintu Kerendahan Hati :
Sekarang, siapapun yang berkeinginan untuk masuk Gereja Kelahiran Yesus di Bethlehem akan menemukan bahwa pintu masuk setinggi lima setengah meter, yang melaluinya kaisar dan kalifah gunakan untuk masuk ke dalam bangunan, sekarang sebagian besar ditutup. Hanya pintu masuk setinggi satu setengah meter yang tersisa. Tujuannya mungkin untuk menyediakan Gereja perlindungan yang lebih baik dari serangan, tapi yang terpenting adalah mencegah orang-orang masuk ke dalam Rumah Allah dengan menaiki kuda (Komentar: Tampaknya yang ingin dikatakan Paus bahwa agar orang-orang tidak masuk ke rumah Allah dengan sikap sombong). Siapapun yang masuk ke tempat kelahiran Yesus harus membungkuk. (Komentar : Dengan membungkukkan badan, dimaksudkan agar kita bersikap rendah hati)
Tampak bagiku kebenaran yang lebih dalam dinyatakan disini, yang seharusnya menyentuh hati kita pada malam kudus ini : jika kita ingin menemukan Allah sebagai Anak, maka kita harus turun dari kuda tinggi akal budi kita yang “tercerahkan”. Kita harus menolak kepastian palsu, kesombongan intelektual, yang mencegah kita mengenali kedekatan Allah. Kita harus mengikuti jalan batin St. Fransiskus Asisi – jalan menuju kesederhanaan akhir ke luar dan ke dalam diri yang menyanggupkan hati kita untuk melihat.
Kita harus membungkuk, secara spiritual kita harus berjalan membungkuk, untuk masuk ke dalam gerbang iman dan bertemu Allah yang sungguh berbeda dari opini dan prejudice kita – Allah yang menyembunyikan dirinya dalam kerendahan hati seorang bayi yang baru lahir.
Dalam semangat ini mari kita merayakan liturgi malam kudus, mari kita melepaskan pandangan kita pada sesuatu yang bersifat material, yang bisa diukur dan digenggam. Mari kita mengijinkan diri kita dijadikan sederhana oleh Allah yang menunjukkan dirinya bagi kesederhanaan hati. Dan mari kita berdoa secara khusus di jam ini bagi semua yang harus merayakan Natal dalam kemiskinan, penderitaan, seperti migrant (orang-orang yang berpindah-pindah tempat) , agar sinar kebaikan Allah bersinar bagi mereka, agar mereka – dan kita – disentuh oleh kebaikan yang Allah pilih untuk membawa ke dalam dunia melalui kelahiran Putra-Nya dalam sebuah kandang. Amen.

"Resmi. Aji Santoso Gantikan RD Sebagai Pelatih Timnas U23"

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menunjuk asisten pelatih tim nasional U23 Aji Santoso sebagai pengganti Rahmad Darmawan yang akan resmi nonaktif pada 13 Januari mendatang. Aji Santoso akan dikukuhkan pada Januari mendatang dalam rapat Komite Eksekutif PSSI.

"Kemungkinan besar memang Aji karena dia asisten Rahmad. Tapi bar...u akan diputuskan dalam rapat Exco (Komite Ekskutif) 8 Januari nanti," kata Koordinator Tim Nasional Bob Hippy ketika dihubungi, Senin, 26 Desember 2011.

Aji mendampingi Rahmad Darmawan saat Skuad Garuda Muda meraih medali perak dalam ajang SEA Games XXVI November lalu. Mantan pelatih Persebaya Surabaya dan Persisam Samarinda ini nantinya akan didampingi Widodo Cahyono Putro. Aji akan melanjutkan program yang ditinggalkan Rahmad Darmawan.

Selain bakal menggantikan Rahmad Darmawan, Bob melanjutkan, Aji Santoso juga akan mendampingi pelatih tim senior yang saat ini masih dipegang Wim Rijsbergen.

"Sudah otomatis nanti pelatih U23 menjadi asisten pelatih timnas senior," katanya
 Inilah yang saya maksud : By IAS Istiqomah Agustin Sobaha
tidak selamanya yg benar itu jujur
dan tidak selamanya juga yg salah itu bohong

Sabtu, 24 Desember 2011

Tata Surya Miliki Dua Anggota Lagi Seukuran Bumi, Planet Baru Ditemukan

Tata Surya Miliki Dua Anggota Lagi Seukuran Bumi, Planet Baru Ditemukan

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Misi Kepler dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan telah menemukan dua planet seukuran Bumi yang mengorbiti sebuah bintang seperti Matahari dalam sistem tata surya kita, demikian NASA seperti dikutip Reuters, Kamis (22/12)
NASA menyebut penemuan ini adalah tonggak bersejarah dalam misi pencarian planet-planet serupa Bumi.
Kedua planet yang dinamai Kepler-20e dan Kepler-20f ini adalah planet-planet terkecil di luar sistem tata surya yang dikonfirmasi mengelilingi sebuah bintang seperti Matahari, demikian NASA.
Kedua planet baru  ini terlalu dekat ke bintang mereka untuk bisa disebut berada di zona layak ditempati kehidupan (habitable zone) di mana ada air likuid pada permukaan planet.
"Penemuan ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa planet-planet seukuran Bumi ada di sekitar bintang-bintang lain (di luar Matahari) dan bahwa kita mampu mendeteksinya," kata Francois Fressin dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.
Kedua planet baru ini diyakini sebagai planet berbatu.  Kepler-20e agak lebih kecil dibandingkan Venus, dengan radius 0,87 kali dari jari-jari Bumi.
Kepler-20f sedikit lebih besar dibandingkan Bumi dengan jari-jari 1,03 kali jari-jari Bumi. Kedua planet ini berada di sistem beranggotakan lima planet yang dinamai dengan Kepler-20, sedangkan jaraknya adalah 1.000 tahun cahaya dalam konstelasi Lyra.Kepler-20e mengorbiti bintangnya setiap 6,1 hari, sementara Kepler-20f mengorbit setiap 19,6 hari.Kepler-20f, yang bersuhu 800 derajat Fahrenheit, mirip dengan rata-rata hari planet Merkurius.
Suhu di permukaan Kepler-20e yang mencapai lebih dari 1.400 derajat Fahrenheit, bisa melelehkan kaca.
Teleskop ruang angkasa Kepler mendeteksi planet-planet dan calon planet dengan mengukur kekuatan cahaya lebih dari 150.000 bintang ketika planet-planet melintas di depan bintang-bintangnya. (*)

Jumat, 23 Desember 2011

MERRY CHRISTMAS!!

MERRY CHRISTMAS!!
Only 2 More Days!...
Why Did God Send His Son?
...Because God RESTORES!!

... God Not ONLY Loves and FORGIVES us..
...Redeems us, Heals us, FORGETS all of our Sin
and Regenerates us... But He Also RESTORES Us
to our Previous State... Making us RIGHTEOUSS!

When we RECEIVE God's Love and Forgiveness
Through Jesus Christ, God makes it look like we
Have NEVER Even SINNED!!
Our Sin is DESTROYED, Paid for and FORGOTTEN!

"God has made HIM, "Jesus" to BECOME Sin for US,
So that We might be MADE the RIGHTEOUSNESS
of God in Him, "Jesus Christ"

God wants to RESTORE You to His Family this Christmas!
Please RECEIVE His Love and Forgiveness Into Your Heart...

And make this your BEST Christmas EVER!!
MERRY CHRISTMAS!
Lihat Selengkapnya

"Yericho Christiantoko Ingin Terus Berkiprah di Luar Negeri"

 "Yericho Christiantoko Ingin Terus Berkiprah di Luar Negeri"

Pemain CS Vise, Yericho Christiantoko, menyatakan dirinya ingin terus berkarir di luar negeri apabila dia sudah tidak bermain di Belgia lagi. Ia ingin terus menambah jam terbang di luar negeri agar pengalamannya terus terasah.

Yericho menceritakan pengalaman dan perkembangannya selama bermain di CS Vise dalam beberapa bulan terakhir. ...Ia mengatakan skuad Vise sudah mulai terlihat solid setelah di awal musim mereka sempat kesulitan meraih hasil maksimal.

"Perkembangan di sana tim mulai bermain bagus, pada awalnya tim masih kesulitan untuk meraih kemenangan di liga dan sekarang sudah mulai kelihatan solid dan selalu mendapatkan 3 poin," ujar Yericho.

Sementara itu mengenai proses adaptasi, menurut Yericho hal yang paling sulit dalam proses adaptasi adalah makanan. Ia mengaku terkadang merindukan masakan Indonesia yang bervariasi rasa. Sementara terkait dengan porsi latihan, Yericho menyatakan tidak terlalu sulit dalam beradaptasi.

"Kalau latihan, di sana biasanya satu hari ada dua sesi latihan, pagi diisi latihan teknik dan sore diisi latihan game. Apabila menjelang pertandingan, latihan akan digelar satu kali saja."

Ketika ditanya tentang keinginannya apabila sudah tidak dikontrak CS Vise lagi, pemain asal kota Malang tersebut mengaku masih ingin melanjutkan karirnya di luar negeri terlebih dahulu. "Keinginan saya tetap bermain di luar negeri, agar menambah pengalaman dan jam terbang yang saya miliki."

Yericho saat ini masih berada di Indonesia, ia sedang berlibur setengah musim kompetisi dan dijadwalkan akan kembali ke Belgia pada tanggal 30 Desember 2011 bersama pemain Indonesia lainnya yaitu Syamsir Alam, Yandi Munawar dan Alfin Tuasalamony, karena CS Vise akan kembali bertanding pada tanggal 8 Januari dengan bertandang ke markas Sint-Niklaas.

CS Vise sendiri saat ini berada di peringkat kedelapan Divisi II Belgia dengan mengoleksi delapan kemenangan dan tujuh kali kekalahan dengan 27 poin ..

Selasa, 20 Desember 2011

Indonesia Raya

Lirik asli, ejaan 1958, dan EYD



Lirik asli (1928)

INDONESIA RAJA
I
Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
"Indonesia Bersatoe".
Hidoeplah tanahkoe, Hidoeplah neg'rikoe, Bangsakoe, djiwakoe, semoea, Bangoenlah rajatnja, Bangoenlah badannja, Oentoek Indonesia Raja.
II
Indonesia, tanah jang moelia, Tanah kita jang kaja, Disanalah akoe hidoep, Oentoek s'lama-lamanja.
Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa:
"Indonesia Bahagia".

Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.
III
Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
"Indonesia Bersatoe"

S'lamatlah rajatnja,
S'lamatlah poet'ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg'rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.
Refrain
Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta.
Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

Lirik resmi (1958)

INDONESIA RAJA
I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri,
Djadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rajatku, sem'wanja,
Bangunlah djiwanja,
Bangunlah badannja,
Untuk Indonesia Raja.
II
Indonesia, tanah jang mulia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanja,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnja,
Suburlah djiwanja,
Bangsanja, Rajatnja, sem'wanja,
Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja,
Untuk Indonesia Raja.
III
Indonesia, tanah jang sutji,
Tanah kita jang sakti,
Disanalah aku berdiri,
Ndjaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang aku sajangi,
Marilah kita berdjandji,
Indonesia abadi.

S'lamatlah rakjatnja,
S'lamatlah putranja,
Pulaunja, lautnja, sem'wanja,
Madjulah Neg'rinja,
Madjulah pandunja,
Untuk Indonesia Raja.
Refrain
Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku jang kutjinta!
Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raja.

Lirik modern

INDONESIA RAYA
I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
II
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
III
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Senin, 19 Desember 2011

Rully Rudolf Nere

"The legendary Rully Rudolf Nere"

Penulis: bepe, 10 December 2011

Pesta olahraga dua tahunan negara-negara asia tenggara SEA Games ke 26 yang pada tahun 2011 ini di helat di Indonesia, seketika membuat seluruh masyarakat kita menjadi sadar tentang arti pentingnya olahraga bagi kehidupan manusia. Tidak saja arti harfiah dari olahraga yang dapat menyehatkan bagi tubuh kita, masyarakat pun mulai tersadar dengan esensi yang paling penting dari olahraga itu sendiri, yaitu adalah untuk menjalin persaudaraan dan juga menyatukan kemajemukan dalam sebuah kesadaran dalam berbangsa dan bernegara..
Cabang yang paling menyita perhatian tentu saja sepakbola. Maka dari itu ketika pada akhirnya tim nasional Indonesia mampu melaju sampai ke partai puncak, saya dan Dewi pun menetapkan hati untuk mendukung tim nasional U-23 secara langsung ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tujuan kami sangat jelas, yaitu ingin menjadi saksi sejarah kembali diraihnya medali emas SEA Games dari cabang sepakbola, setelah terakhir kali kita gapai 20 tahun silam..
Awalnya kami sempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan tiket pertandingan final tersebut, karena di semua tempat penjualan tiket sudah terpampang taulisan sold out. Namun setelah bertanya kesana-kemari dengan gigihnya dan berkat bantuan salah satu eh,, salah dua sahabat saya Desta dan Vincent, akhirnya dapatlah saya tiket pertandingan malam itu.  Maka bergegaslah saya, Dewi dan mas Nanang (Kakak Dewi) berangkat menuju stadion lengkap dengan atribut merah-putih yang memang sudah kami persiapkan sejak semalam. Awalnya saya ingin menggunakan salah satu jersey tim nasional pusaka koleksi saya (Jersey bernomor 10 milik idola saya Kurniawan D J, saat menjalani partai terakhir bersama tim nasional ketika melawan Borussia Dortmund), akan tetapi setelah menimbang satu dan lain hal, akhirnya saya mengurungkan niat tersebut..
Perlu diketahui, ini adalah untuk pertama kalinya saya kembali mendukung tim nasional Indonesia berlaga secara langsung di Gelora Bung Karno, setelah terakhir kali pada tahun 2004 (Tiger Cup - Indonesia Vs Malaysia, saat itu saya dicoret oleh pelatih Peter Withe saat persiapan menjelang kejuaraan digelar). Hal tersebut bukan dikarenakan saya tidak mendukung atau tidak mencintai tim nasional Indonesia, akan tetapi lebih kepada setiap tim nasional berlaga di Gelora Bung Karno saya selalu berada di dalam lapangan atau setidaknya duduk di bangku cadangan pemain. Dengan kata lain, saya berada di stadion sebagai orang yang berjibaku dilapangan, bukan yang mendukung dari tribun penonton..
Sore itu suasana di sekitar kawasan Senayan berubah memerah, para pendukung tim Merah-Putih menyemut di jalanan sekitar Stadion Gelora Bung Karno, padahal ketika itu waktu masih menunjukkan pukul 16:00 WIB dan pertandingan sendiri baru akan digelar pukul 19:30 WIB. Banyak sekali muka-muka yang sangat familier diantara kerumunan orang-orang beratribut merah dan putih tersebut. Diantaranya terdapat artis, politikus, musisi dan juga pejabat pemerintahan. Banyak  orang  yang tiba-tiba menjadi nasionalis dan suka sepakbola, padahal sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki di Stadion kebanggaan rakyat Indonesia tersebut. Inilah hebatnya sepakbola, sebuah olahraga yang dapat menyatukan segala lapisan masyarakat dalan sebuah stadion walaupun dalam keadaan panas dan juga barang tentu gerah luar biasa..
Bersama Dewi, Mas Nanang, Desta, Vincent dan istri, Hamka Hamzah serta beberapa sahabat yang lain kamipun berjalan beriringan membelah lautan manusia dari Hotel Century, tempat kami bertemu menuju pintu VIP Barat Stadion Utama Gelora Bung Karno. Setelah melalui perjalanan yang lumayan ribet tapi penuh semangat tersebut, akhirnya kami berhasil memasuki rumah ibadah para pencinta sepakbola negeri ini tersebut. Waktu menunjukkan pukul 17:30 WIB, suasana stadion sudah nampak merah, kurang lebih 3/4 sudah penuh terisi oleh para pendukung fanatik tim Garuda, padahal kick off sendiri masih 120 menit lagi dari sekarang..
Setelah mendapatkan tempat duduk yang menurut kami cukup nyaman untuk menyaksikan jalannya pertandingan, maka sama seperti kebanyakan pendukung yang lain di dalam stadion ini, kamipun berphoto ria untuk sekedar mengabadikan moment yang kami yakini akan menjadi sejarah tersebut. Dan saat itulah, di tengah riuh rendahnya pendukung yang mulai bernyanyi, terjadilah sebuah peristiwa yang cukup lucu, menggelikan atau boleh juga dikatakan memalukan..
Beginilah ceritanya:
Ketika itu kebetulan kami duduk tepat didepan ruang siaran salah satu radio legendaris Republik ini, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI). Entah siapa yang memulai dahulu (Seingat saya Desta) terlepas kalimat yang berbunyi, "Eh itu ada Om Rully". Mendengar nama salah satu pemain legendaris Indonesia disebut, yang kebetulan juga salah satu idola dan juga pernah menangani saya saat bermain di tim nasional U-19 tepatnya 12 tahun yang lalu, seketika sayapun berteriak "Mana bro..??". Desta pun segera menujuk ke arah sebuah ruangan kaca yang berada tepat dibelakang posisi kami duduk, dan seketika kami semua menoleh ke arah yang di tunjukkan Desta tersebut..
Di dalam ruangan kaca tersebut terdapat dua orang yang tengah bekerja menyampaikan siaran pandangan mata suasana stadion menjelang partai puncak SEA Games yang akan digelar beberapa jam lagi. Suasana di dalam ruangan tersebut memang sedikit agak temaram, karena diterangi oleh lampu bohlam yang berwarna kuning (Mungkin untuk menjaga cita rasa klasik dari RRI sendiri hehehe), ditengah ruangan yang sedikit temaram tersebut sekilas pandang nampak seseorang yang menyerupai mantan pelatih saya tersebut. Maka tanpa berpikir panjang sayapun berteriak, "Wooiiii Om Rullyyyyyy..!!", sambil mengacungkan tangan saya dalam posisi tergenggam tinggi-tinggi ke udara. Teriakan saya tersebut spontan diikuti oleh Vincent dan juga Hamka, mereka juga berteriak "Kaka Rullyyyyyy...!!" dengan hebohnya. Hal tersebut membuat seluruh penonton yang berada di sektor tempat kami duduk, ikut heboh dibuatnya..
Beberapa saat kemudian Hamka Hamzah berkata, "Ah tapi keliatannya bukan Om Rully deh", hal tersebut membuat kami sedikit bimbang, akan tetapi kemudian saya menukas "Ah iya,, itu Kaka Rully" dan sayapun kembali berteriak dengan penuh semangat, "Kaka Rullyyyyyy...!!! Kaka Rullyyyyy...!!!" kali ini saya berteriak sembari mengangkat tinggi-tinggi bendera Merah-Putih yang memang sengaja saya bawa dari rumah. Beberapa saat kemudian, orang yang kami maksud tersebut pun tersenyum sambil mengangkat kedua jempolnya ke atas. Kemudian sayapun menegaskan kepada sahabat-sahabat saya tersebut, "Nah bener kan itu Om Rully". Dan sahabat-sahabat sayapun berkata "Oh iya bener itu Om Rully", tanda setuju..
Maka setelah itu obrolan kamipun beralih membahas mengenai kehebatan sosok Rully Nere semasa jayanya dahulu. Bahkan saya sempat memperlihatkan sebuah photo lama saya, ketika rambut saya cukup panjang dan terlihat kribo, saat itu saya berujar, "Nih,, rambut gue ini terinspirasi dengan rambut Om Rully nih". Seketika itu juga keluarlah tanggapan dari Desta setelah melihat photo tersebut, "Iya, itu kan sama kayak pas lawan qatar kemarin, model rambut Bolu Kukus hahaha", tidak mau kalah Vincent pun segera menimpali "Itu sih bukan Rully Nere masbroo, tapi Jackson Five mau reunian". Mendengar kalimat tersebut seketika kamipun tertawa terbahak-bahak bhahahaha..
Beberapa saat berselang, ditengah keseruan Vincent dan Desta yang tengah mengolok-olok diri saya, datanglah seseorang lelaki menghampiri kami. Orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu penyiar radio RRI di dalam ruangan kaca diatas. Setelah berdiri tepat di depan kami, orang tersebut pun menyapa, "Selamat sore  mas, apa kabar..??", dengan serentak kamipun menjawab "Sore, baik mas, baik". "Ikut siaran yuk mas, sebentar saja 15 menitan lah" kata orang tersebut melanjutkan, "Wah jangan saya deh mas, Hamka saja ya", tukas saya sambil melihat Hamka. Secepat kilat Hamka pun merespon, "Waduh saya ngga bisa ngomong mas, Desta saja deh", tanpa menunggu lama Desta pun menyaut "Hah jangan gue, Vincent aja deh Vincent"..
Dengan muka yang sedikit bingung karena kami ping-pong, orang tersebut pun berbicara dengan nada sedikit pasrah, "Yaudah siapa saja boleh deh, ayo Mas Vincent". Seketika Vincent pun menjawab dengan nada nyablak khasnya "Enak aja,, jangan gue,, jangan gue, emang mau ngobrolin apa sih Mas..??", "Ngobrol-ngobrol seru-seruan tentang suasana stadion saja mas, ringan kok", kata penyiar tersebut mencoba menjelaskan. Melihat ke empat dari kami nampak segan untuk naik ke studio, penyiar tersebut pun akhirnya berkata dengan pasrah, "Yasudah mas kalo begitu, terima kasih ya", seketika sayapun menjawab "Iya lah mas, lagian kan sudah ada nara sumber yang lebih berkompeten diatas sana", seketika penyiar tadi menjawab "Siapa Mas..??". "Nah itu kan sudah ada Om Rully Nere di atas", jawab saya dengan yakinnya sambil menunjuk ke arah ruangan kaca diatas. Dengan buru-buru penyiar tersebut pun menjawab "Oh bukan mas, itu bukan Om Rully Nere, itu salah satu penyiar kami"..
Seketika dengan serempak kami pun berkata "Huuaaaa,, masak sih..!!", "Iya mas, dia salah satu penyiar kita", kata sang penyiar sambil permisi berlalu untuk kembali ke studio. Seketika terjadilah perdebatan diantara kami, "Kan tadi gue bilang apa, itu bukan Om Rully", celetuk Hamka. "Dia nih yang yakin bener kalo penyiar itu Om Rully", tukas Vincent dan Desta serempak sambil menujuk saya. Dan sayapun hanya dapat cengar-cengir sambil menahan rasa malu, "Pantesan penyiar yang kita kiraOm Rully tadi agak bengong dan mengangkat tangan dengan sedikit ragu-ragu ya. Abis mirip banget sih bro, mana orang udah ikutan heboh lagi" jawab saya membela diri..
Beberapa saat kemudian Vincent berkata "Orang itu pasti bingung, ko mereka pada kenal sama gue ya, kenal dimana mereka kira-kira..??", tidak mau kalah Desta pun menyaut, "Bingung lah bro, ko mereka bisa tau gue kan gue penyiar radio, kalo orang dengerin radio kan ngga keliatannya muka penyiarnya", kalimat tersebut seketika membuat kami semua (Termasuk Dewi, Mas Nanang, Istri Vincent dan beberapa sahabat yang lain) tertawa dengan keras dan lantang nya hahahahaha..
Itu adalah cerita menarik dibalik pengalaman saya menyaksikan final SEA Games sepakbola beberapa waktu yang lalu, antara Indonesia melawan Malaysia. Pertandingan final sendiripun seperti kita ketahui bersama, berakhir dengan kekalahan bagi tim nasional Indonesia U-23, melalui drama adu tendangan pinalty dari seteru abadi kita Malaysia..
Terlepas dari kekalahan di partai final tersebut, perjuangan Garuda Muda Indonesia patut untuk kita beri apresiasi dengan sangat tinggi. Karena selama perhelatan SEA Games itu sendiri, mereka mampu tampil dengan sangat impresif dan menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Pemain-pemain muda kita seperti Titus Bonai, Patrich Wanggai, Okto Maniani, Egi Melgiansyah, Andik Vermansyah, Hasim Kipuw, Abdurahman, Diego Michiels, Kurnia Meiga dll mampu memberikan angin segar dimasa yang akan datang. Dengan kualitas pemain seperti mereka, setidaknya masa depan persepakbolaan Indonesia terlihat sangatlah cerah..
Akhir sekali, pada akhir artikel ini ijinkanlah saya untuk menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati yang paling dalam kepada mantan pelatih, senior dan juga salah satu idola saya, Rully Rudolf Nere. Piristiwa yang saya ceritakan di atas murni terjadi karena adanya kesalahan pahaman, tanpa ada faktor kesengajaan sedikitpun. Sekali lagi mohon maaf Kaka Rully hehehe..
Terima kasih karena sudah menyimak cerita saya diatas, itulah lebih kurangnya kronologi dari kejadian lucu yang secara tidak saya sengaja membawa nama salah satu pahlawan sepakbola Indonesia dimasa silam, cerita yang sering kami (Vincent, Desta, Hamka dan saya) singgung di jejaring sosial bernama Twitter. Sebuah cerita yang saya beri judul sesuai dengan nama salah satu 'Mutiara Hitam" kebanggan bangsa ini yang lahir pada tgl 13 mei 54 tahun yang lalu, yaitu:
"The Legendari Rully Rudolf Nere"

Buat MantanNYA

~FOUND YOU~

oleh Istiqomah Agustin Sobaha pada 20 Desember 2011 pukul 9:26
Honestly I didn't know at first
thougt there was a coincidental meeting
until now more than happiness

I learned a lot more about pain
I had a lot of tears
but I'll only give you laughter

I finally found my other half
my heart ir racing like this

I found you, my love, the person I've been looking for
I want to embrace you passionately
stay still and close your eyes

so that I can kiss you
I love you,I love you

i found you, the one person to stay beside me
I had closed my heart

but to you I'll givmd my heart
thanks you for coming to my side.
:)

Selamat yaahh buat lo kawan ... :)

Senin, 12 Desember 2011

Andai Dia Tahu (Especialy for You)

Andai Dia Tahu

Bilakah dia tahu

Apa yang tlah terjadi

Semenjak hari itu

Hati ini miliknya

Refrain :

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang kurasa

Mungkinkah dia jatuh cinta

Seperti apa yang kudamba

Bilakah dia mengerti

Apa yang tlah terjadi

Hasratku tak tertahan

Tuk dapatkan dirinya

Refrain :

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang kurasa

Mungkin kah dia jatuh cinta

Seperti apa yang kudamba

Tuhan yakinkan dia

Tuk jatuh cinta

Hanya untukku

Andai dia tahu......

Rabu, 07 Desember 2011

Aku, Kamu, dan Dia

Ditulis : Hendricus Novaldo Widodo Putra
Selasa, 6 Desember 2011

Pagi itu aku bangun, dan bersiap pergi kesekolah dengan motor paling setia ikut aku. Aku kesekolah untuk menyelesaikan tugas-tugas akhir semester 3 ku, ada tugas Jepang, PKn, dan Fisika kala itu yang ingin aku kerjakan dan kumpulkan. Ku lihat handphone ku pagi-pagi, dan ternyata ada sms dari temanku Rendy, aku disuruhnya segera kesekolah. Aku pun bergegas tanpa sarapan pagi dahulu. Dengan jalanan yang agak macet karna juga hari itu hari kerja. Aku pun memilih lewat jalan biasa. Dan jalan itu, aku slalu melewati depan rumah kamu (special friend dikelasku). Saat itu aku lihat rumahnya, dan ternyata udah berangkat.

Sesampainya disekolah, aku langsung kedepan kelas ku XI IPA 3. Aku langsung bersama kelompok PKn ku menyelesaikan naskah drama. Aku lihat special friend sedang sarapan, jadi aku memilih aku yang mengerjakan tugas-tugas ini, lagian kamu juga masih mengerjakan tugas Jepang kamu.

Awalnya memang berjalan seperti biasa dengan kamu. Dekat seperti biasa, menjelang siang, aku menyuruh kamu untuk ngeburning CD. Dan sejenak aku ingin berIstirahat. Saat kamu sedang ngeburning, Dia (mantan kamu) datang, dan kamu langsung menyambanginya Dia, dan membincangkan sesuatu hal. Aku melihatnya, lidah ku sekejap kaku, tingkah ku menjadi aneh, sampai-sampai teman ku Dewi yang saat itu juga ingin ngeburning cd heran dan bertanya padaku "Do, emank mereka balikan lagy yaa?? koq gw gk tau, Lo tau gk?? kan Lo lagyy deket ama dia... sabar ya Do."

Aku tidak bisa menjawab apa-apa, sampai-sampai aku langsung pergi, sangking tak tahu harus apa lagi. Sepintas aku ingin menangis, tapi untuk apa?? aku bukan-bukan siapa-siapa kamu, dan dia adalah mantan kamu. Mungkin kamu hanya ingin aku berharap saja untuk bisa jadi kekasih hatimu. Aku memang orang yang bisa terima kenyataan melihat kamu balikan lagi dengan dia. Tapi aku juga belum tahu, dan akan terus selalu berharap dengan mu sampai waktu yang tak aku ketahui, kapan? kapan? dan kapan? Mungkin kamu juga tau satu hal dariku, aku cinta kamu. Karna itu aku bahagia.

Ada makna tersirat dibalik cerita ini. Love You :)

Senin, 05 Desember 2011

BP, Riedl, dan AFF Cup 2010 lalu

"Saya, Alfred Riedl dan Piala AFF 2010"

Penulis: bepe, 16 August 2011
Suatu pagi, setelah latihan rutin bersama Timnas menjelang AFF bergulir, pelatih kepala tim nasional Indonesia  Alfred Riedl tiba-tiba memanggil saya. Di tengah lapangan, di bawah terik mentari dan dalam keadaan bercucuran keringat, kami melakukan sebuah pembicaraan. Iya, sebuah pembicaraan yg boleh di katakan cukup serius atau bahkan teramat sangat serius...
Dalam pembicaraan ini, saya dan Alfred membuat sebuah kesepakatan. Sebuah kesepakatan yg jujur akan menjadi sesuatu yg sangat berat bagi saya. Akan tetapi kesepakatan tersebut, terjadi atas dasar sebuah profesionalisme. Atas dasar jiwa profesional Alfred sebagai pelatih dan juga jiwa profesionalisme saya sebagai pemain, yg tentunya harus kami berdua hargai dan junjung dengan sangat tinggi..
Di bawah ini akan saya lampirkan isi dari percakapan kami saat itu, sebuah percakapan yg mungkin tidak dapat saya ingat secara detail, akan tetapi secara garis besar  tentu saya sangat pahami dan mengerti betul..
Ini adalah gambaran dari percakapan kami saat itu:
Alfred : Bambang, selama 3 bulan kita bekerja sama. Tentu kamu sudah sangat mengenal karakter saya, begitu juga sebaliknya. Saya adalah pelatih yg jujur, berbicara terbuka dan langsung. Saya bukan tipe pelatih yg suka berbicara di belakang..
Saya   : Iya coach, saya tau betul akan hal tersebut..
Alfred : Ok bagus kalo begitu. Hari ini, saya harus mengatakan dengan jujur  jika kamu tidak berhasil menjadi bagian dari 11 pemain inti di Piala AFF nanti..
Mendengar kalimat tersebut seketika lidah saya menjadi kelu, rahang saya serasa kaku dan membeku saat itu. Jelas ini bukanlah kabar yg mudah untuk didengar dan diterima. Beberapa saat kemudian hanya sebuah kata keluar dari mulut saya "Ok". Dan kemudian Riedl pun kembali berkata:
Alfred : Bambang, kamu adalah pemain paling senior di tim ini, kamu sudah berada di tim ini sejak tahun 1999. Saya tau keputusan ini akan sangat berat buat kamu. Akan tetapi saya harus fair dalam membuat setiap penilaian..
Saya  : Iya coach saya tau itu..
Alfred : Asal kamu tau Bambang, jika saya masih membutuhkan kamu. Sampai kapanpun, kamu akan tetap menjadi kapten dan pemimpin dari tim ini. Tidak ada yg perlu di ragukan mengenai hal tersebut. Akan tetapi saya tidak dapat berjanji, apakah kamu akan turun dalam setiap pertandingan di Piala Aff nanti..
Saya   : Sebagai pemain, saya akan selalu menghargai dan menghormati keputusan anda sebagai pelatih, apapun itu. Walaupun sejujurnya hal tersebut tidak akan mudah bagi saya..
Alfred : Jadi, kamu dapat menerima keputusan saya..??
Saya  : Bisa coach, tidak ada masalah dengan hal tersebut. Anda mungkin baru mengenal saya selama 3 bulan di tim nasional. Akan tetapi asal anda tahu, bahwa komitmen saya untuk tim nasional akan selalu 100%. Dan saya harap anda tidak meragukannya..
Alfred : Satu hal yg kamu harus tau Bambang, jika semua orang dalam tim ini adalah manusia-manusia yg bebas. Setiap orang boleh pergi jika merasa tidak puas atau tidak nyaman, dan itu juga berlaku buat kamu dan juga saya. Jadi jika kamu merasa tidak puas dengan keadaan ini, kamu berhak untuk meninggalkan tim ini, dan saya akan sangat menghormati keputusan kamu tersebut. Bagaimana..??
Saya  : Tidak coach...!!! Apapun konsekuensinya, saya akan tetap berada di sini. Kecuali jika anda meminta saya untuk meninggalkan tim ini, maka saya akan segera mengemas barang-barang saya dan pulang menemui keluarga saya..
Alfred : Mungkin kamu juga akan mengalami banyak masalah dengan wartawan yg mungkin akan coba untuk memancing perdebatan antar kamu dan saya. Karena sebagai pemain senior, kamu hanya menjadi cadangan. Apakah kamu siap dengan hal tersebut..??
Saya  : Tidak ada masalah dengan hal tersebut coach, lagipula sudah sejak lama hubungan saya dengan wartawan memang tidak berjalan dengan baik. Anda tidak perlu khawatir dengan hal tersebut, saya sudah terbiasa dalam menghadapi hal-hal tersebut..
Alfred : Ok kalau begitu. Apakah kamu juga bersedia untuk membantu saya untuk mengatur, menjaga serta memimpin tim ini sebagai kapten, walaupun mungkin kamu tidak akan bermain sebagai pemain utama..??
Saya   : Saya akan selalu berusaha memberikan hal terbaik yg saya mampu untuk anda, untuk tim nasional dan untuk negara saya coach. Dapat saya pastikan itu..
Alfred : Terima kasih Bambang, saya tau kamu adalah pemain besar yg juga berjiwa besar.. (Dan kamipun bersalaman)
Seketika hati saya bergemuruh, suhu badan saya memanas, keringatpun semakin membasahi sekujur tubuh saya yg memang sudah basah kuyup dengan keringat selama latihan tadi. Kekecewaan sayapun membuncah. Sebuah kekecewaan yg sama sekali tidak berhubungan dengan seorang  pelatih berkebangsaan Austria bernama Alfred Riedl tersebut..
Setiap pemain pasti ingin bermain secara reguler, dan ketika seorang pemain gagal menjadi bagian dari 11 pemain utama, maka sangat wajar jika orang tersebut kecewa (Tentu kecewa dalam arti yg positif). Kekecewaaan saya, lebih tertuju kepada diri saya sendiri. Iya, saya kecewa terhadap diri saya yg tidak mampu mengeluarkan permainan terbaik saya, sehingga harus kalah bersaing dengan striker-striker yg lain. Jadi sama sekali tidak berhubungan dengan kepemimpinan Riedl sebagai pelatih, sekali lagi tidak ada..
Dalam perkembangannya, Riedl juga menjelaskan kepada saya. Jika dia telah menyiapkan saya sebagai pelapis bagi Christian Gonzales. Dia juga mengatakan, jika dia tidak akan pernah berpikir untuk memasang saya secara bersamaan dengan Gonzales di lini depan timnas Indonesia..
Menurut Riedl, tipe bermain saya dan Gonzales adalah sama. Tentu secara strategi akan sangat merugikan jika memasang pemain dengan tipe yg sama dalam satu lapangan, dan untuk hal tersebut saya sendiri sangat setuju. Sehingga, jika nantinya saya bermain, maka saya akan berpasangan dengan Irfan Bachdim atau Yongki Ariwibowo. Serta satu hal lagi yg Riedl tegaskan kepada saya adalah, bahwa dia hanya akan memasangkan saya dengan Gonzales pada saat-saat yg memang sangat-sangat genting..
Maka selama AFF di gelar, sayapun melakukan apa yg menjadi tugas saya di dalam tim ini. Memimpin tim ini baik di dalam maupun di luar lapangan, saya hanya tidak memimpin mereka ketika pertandingan resmi di gelar, karena hal tersebut menjadi kewenangan Firman Utina. Kedisiplinan semua pemain dalam apapun kesempatannya adalah menjadi tanggung jawab saya...
Saat terjadi hal-hal yg tidak sesuai dengan aturan dan ketentuan tim, maka orang pertama yg harus berhadapan dengan Riedl adalah saya. Suatu contoh, ketika Okto Maniani sempat terlambat makan siang karena ketiduran, Riedl sempat menegur dengan keras Okto dengan berkata demikian, "Okto, jika kamu mau tidur, set alarm kamu agar tidak terlambat. Dan jika kamu masih ragu jika tidak terbangun, kamu bisa tlp kapten (Saya) untuk meminta bantuan agar di bangunkan saat makan siang. Kesalahan-kesalahan mendasar seperti ini jelas tidak dapat saya terima Okto"..
Jadi walaupun status saya hanya sebagai pemain cadangan di tim ini, akan tetapi segala sesuatu yg berhubungan dengan tim ini di luar partai resmi adalah menjadi tanggung jawab saya. Sedangkan di dalam lapangan saat bertanding maka Firman Utina adalah pemimpin tim ini. Dan karena kebetulan kami satu kamar, maka semuanya dapat kami diskusikan dengan cepat. Kami banyak berdiskusi mengenai keadaan tim, utamanya sesaat menjelang tidur malam..
Maka jika anda sekalian cermati, ada sebuah kejadian janggal yg terjadi selama gelaran AFF kemarin. Yaitu setiap tim nasional memasuki lapangan untuk melakukan pemanasan, bukan Firman Utina yg memimpin di depan, melainkan saya. Hal tersebut tentu tidak wajar, mengingat saya hanya pemain cadangan. Akan tetapi karena itu adalah perintah dari Riedl secara langsung, maka sayapun akan melakukannya, walaupun sejujurnya ada sedikit perasaan risih yg mengganjal..
Beberapa kali Alfred sempat memuji saya di depan para pemain di saat meeting. Dia memuji perilaku saya yg mencerminkan seorang profesional, dan dapat menerima segala keputusan pelatih walaupun berat. Serta tetap mampu menjaga komitmen kepada tim nasional, dangan tanpa melakukan hal-hal negatif di dalam tim..
Saya ingat betul ketika sehari setelah melawan Thailand. Sesaat sebelum berlatih, di dalam ruang ganti lapangan ABC  Alfred sempat berujar di depan seluruh anggota tim seperti ini.
"Saya ingin berterima kasih kepada Bambang, karena telah banyak membantu saya dalam menjaga tim ini, dan juga untuk kontribusinya yg besar pada pertandingan kemarin (Vs Thailand). Saya tahu sekarang bukan saat yg mudah buat dia, akan tetapi dia mempunyai karakter yg kuat dan berjiwa besar, sehingga mampu mengawal dirinya dengan baik. Bagi kalian pemain yg muda, kalian harus liat Bambang, sebagai pemain yg sudah lama di tim ini. Dia tidak pernah mengeluh apakah akan saya mainkan atau tidak, dan hanya fokus melakukan tugas nya ketika saya butuhkan. Itu adalah jiwa profesional, sekali lagi terima kasih Bambang"
Di akhir ucapan Riedl seluruh pemain bertepuk tangan untuk saya, sayapun mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Riedl dan seluruh pemain.
Satu kejadian lagi, yaitu saat melawan Philiphine di leg kedua, saat itu seharusnya saya tidak turun bermain. Pada babak ke dua, Afred menyuruh semua pemain cadangan melakukan pemanasan kecual saya dan Yesayas Desnam. Itu artinya, pada pertandingan itu saya tidak akan bermain..
Akan tetapi tiba-tiba 10 menit sebelum pertandingan selesai, Riedl memanggil saya dan memerintahkan saya untuk melakukan pemanasan. Maka sayapun bergegas melakukannya. Tidak saya sangka ternyata Riedl lebih memilih memasukkan saya untuk menggantikan Gonzales, daripada Irfan yg sudah melakukan pemanasan sejak 30 menit yg lalu. Saat itu pertandingan tersisa 2 menit saja, dan akirnya sayapun bermain selama kurang lebih 1 menit 15 detik dengan tanpa menyentuh bola sekalipun sampai pertandingan selesai hehehe...
Sesaat setelah pertandingan selesai, Riedl kembali memanggil saya dan berkata demikian :
Bambang (_._._) (_._._) (_._._._._) (_._._._._._), (_._) (_) (_._._._) (_._._._._._) (_._) (_._._._) (_._._._) and (_._._) (_._._._) (_._._._._._) (_._) the league. (_._._) will be (_._._._) (_._._._) (_._)...
Sebuah kalimat, yg sejujurnya semakin memotifasi diri saya untuk terus berjuang bersama tim nas Indonesia di masa-masa yg akan datang..
Lebih daripada itu semua, bukankah sudah seharusnya setiap pemain berlaku demikian. Menghormati apapun keputusan staff pelatih, walaupun sejujurnya mungkin sangat pahit bagi kita. Saya rasa setiap pemain juga tidak berhak untuk berbuat sesuatu hal negatif, yg dapat mempengaruhi suasana tim kearah tidak kondusif. Karena dengan begitu, maka kita telah menghargai dan menghormati seluruh komponen dalam tim itu sendiri...
Dan bagi saya pribadi, sejujurnya saya ingin memberikan contoh yg baik bagi generasi di bawah saya, bahwasanya berjuang atas nama negara itu membutuhkan pengorbanan besar, yg salah satu diantaranya adalah mengorbankan perasaan kita. Akan selalu tidak mudah menjadi pemain pelapis dalam sebuah tim, akan tetapi sekali lagi kepentingan tim jauh lebih penting daripada hanya sekedar perasaan kita sebagai sebuah individu...
Lagipula menjadi bagian dari 22 orang yg terpilih dari jutaan pesepakbola Indonesia yg di percaya untuk membawa nama Bangsa dan Negara, sudahlah menjadi sebuah kebanggan yg tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Maka dari itu mengapa kita harus malu menjadi pemain cadangan di tim nasional, saya rasa tidak ada alasan untuk melakukan hal tersebut..
Selesai...

Minggu, 04 Desember 2011

Inspiring BP 20

"Ini Tanggung Jawab Bersama"

Penulis: bepe, 27 November 2011

Hotel Mangkuputra, Cilegon, Banten - 18 November 2011
Langit masih nampak gelap gulita ketika saya keluar dari pintu rumah dan menyalakan mobil saya, waktu di jam tangan saya menunjukkan pukul 04:00 WIB. Udara dingin pagi ini cukup mampu memaksa saya untuk membalut tubuh saya dengan sebuah jaket, dan pilihan saya pagi ini jatuh pada jaket berwarna hitam dengan kombinasi warna orange bertuliskan Persija Jakarta di bagian belakangnya.
Sambil menyerahkan sebuah termos kecil berisi kopi panas, Dewi istri saya berkata "Hati-hati ya cin, pelan-pelan saja nyetirnya, kalo sudah sampai jangan lupa kabarin". "Iya sayang, pasti aku kabarin" jawab saya lirih sambil menerima setermos kopi dari tangan istri saya. Beberapa saat kemudian, setelah mesin mobil saya rasa cukup panas dan setelah mencium Dewi istri saya tercinta, maka sayapun bergegas memacu kendaraan saya membelah suasana dingin dan tipisnya kabut pagi ini..
Tujuan saya pagi ini adalah untuk bergabung dengan tim Persija Jakarta yang tengah melakukan pemusatan latihan di hotel Mangkuputra, Cilegon, Banten. Jalanan kota Jakarta pagi ini masih sangat lengang, sangat bertolak belakang dengan saat di siang hari. Selama perjalanan banyak sekali hal berkecamuk dalam benak saya. Hal-hal yg berkaitan dengan pekerjaan saya sebagai pesepakbola silih berganti lalu-lalang di kepala saya ketika ini. Ingin rasanya saya menuliskan hal-hal tersebut di iPad kesayangan saya. Akan tetapi apalah daya, tidak mungkin juga saya melakukan dua buah hal yg sama-sama membutuhkan konsentrasi tinggi secara bersamaan, yaitu menulis dan mengemudikan kendaraan..
Andai saja saya Adam Gibson (Arnold Schwarzenegger) dalam film The 6th Day yang tinggal mengatakan mana tujuan saya dan mobil akan berjalan dengan sendirinya. Atau mungkin Tony stark (Robert Downey Jr) dalam Iron Man yang memiliki asisten super cangging bernama Jarvis, makan saya yakin dalam 1,5 jam kedepan saat saya memasuki kota Cilegon, sebuah artikel utuh sudah berada di dalam iPad saya dan siap disajikan di blog saya bambangpamungkas20.com. Namun pada akhirnya dikarenakan keterbatasan kemampuan tersebut,keinginan untuk menulispun harus saya tahan hinga siang harinya..
Keterpurukan tim nasional Indonesia dalam mengarungi babak kualifikasi piala dunia 2014 menyisakan kegundahan serta kekecewaan yang luar biasa di hati seluruh masyarakat Indonesia. Tanpa mendapatkan satu poinpun dari 5 kali pertandingan jelas sebuah hasil yang menyedihkan atau dapat juga dikatakan sangat memalukan. Terlepas dari kualitas lawan-lawan yang dihadapi memang lebih baik, akan tetapi seharusnya kita mampu berbuat atau menyajikan penampilan yang lebih baik dari apa yng sudah kita pertontonkan selama gelaran kualifikasi ini..
Seperti yang pernah saya sampaikan dalam artikel (Bola Itu Berada Di Tangan Kita - 2009), bahwa - "Harus selalu ada pihak yang bertanggung jawab dalam setiap kegagalan". Begitu pula saat ini, banyak sekali suara-suara di luar sana yang menunjuk pelatih kepala tim nasional Indonesia Wim Rijsbergen sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas hasil buruk tim yang didapat nasional saat ini..
Hal tersebut membuat begitu banyak orang menginginkan pelatih berkebangsaan Belanda tersebut untuk lengser diri dari jabatan pelatih kepala tim nasional Indonesia. Disamping itu, tidak kalah banyak juga masyarakat yang menginginkan kapten tim nasional Bambang Pamungkas dan wakil kapten ti nasional Firman Utina untuk mengundurkan diri dari tim nasional Indonesia..
Pada artikel ini ijinkan saya untuk membahas perihal pelatih tim nasional Wim Rijsbergen terlebih dahulu, sedang perihal tuntutan pengunduran diri kepada Bambang Pamungkas dan Firman Utina nantinya akan saya bahas di bagian akhir dari artikel ini..
Dalam jumpa pers setelah pertandingan Indonesia melawan Iran yg berkesudahan 1:4 untuk kemenangan anak asuhan Carlos Queroz tersebut, saya sempat berbicara cukup keras di depan semua awak media yg hadir ketika itu. Beginilah kurang lebih ucapan saya ketika itu:
"Saya adalah pribadi yang selalu berusaha untuk menilai segala sesuatunya secara fair. Dahulu ketika Alfred Riedl dipecat, saya adalah pemain yang berteriak paling lantang dalam menyuarakan ketidak sependapatan saya. Ketika itu saya sama sekali tidak menolak kehadiran Wim sebagai pelatih tim nasional, akan tetapi yang saya kritisi adalah keputusan PSSI yang terkesan semena-mena dalam memperlakukan Alfred Riedl. Saya menilai keputusan PSSI untuk melengserkan Riedl ketika itu sarat muatan muatan politis..
Beberapa waktu yang lalu saat kita kalah melawan Bahrain dan Wim terkesan menyalahkan para pemain, saya adalah orang pertama yang bersinggungan langsung dengan beliau. Bahkan dikarenakan hal tersebut, sejujurnya kami sempat tidak berjabat tangan dan tidak saling tegur dalam beberapa waktu. Akan tetapi saat ini, ketika semua orang menyalahkan Wim atas kegagalan tim nasional Indonesia untuk bermain baik selama penyisihan piala dunia 2014, saya jugalah orang pertama yang akan membela pelatih saya tersebut..
Mengapa demikian..?? Terlepas dari kekurangan dan kelebihan Wim sebagai seorang pelatih, semua pihak juga harus turut bertanggung jawab atas kegagalan ini. Sangat kurang bijaksana rasanya jika hanya pelatih yang dipersalahkan. Semua pemain termasuk saya pribadi sebagai kapten tim nasional Indonesia juga harus mempertanggung jawabkan kinerja kami. Demikian halnya dengan Ketua Umum PSSI Bpk Djohar Arifin yang juga harus berjiwa besar mengakui kegagalannya..
Bagaimana kita dapat menghadapi event sebesar kualifikasi piala dunia dengan baik, jika liga Indonesia sendiri sudah tidak bergulir selama kurang lebih 5 bulan. Pemain tidak memiliki jam terbang kompetitif di tiap minggunya, tidak ada ujicoba international yang cukup memadai, belum lagi kekacauan penyusunan kompetisi yang semrawut yang dampaknya membuat beberapa tim tidak dapat melakukan persiapan dengan maksimal. Hal tersebut membuat banyak pemain tidak dapat menjalankan program latihan dengan baik serta maksimal sebagaimana mestinya..
Sebagai contoh, jika seorang pelatih merasa kurang puas dengan kinerja pemainnya, maka logikanya pelatih tersebut akan memanggil pemain baru untuk menambah daya dobrak atau kekuatan tim. Dalam hal ini Wim tidak dapat melihat pemain-pemain baru karena tidak ada kompetisi yang sedang bergulir. Keterbatasan stok pemain karena tidak adanya kompetisi tersebut, juga merupakan salah satu kendala besar yang mau ngga mau harus dialami oleh Wim dalam meramu kekuatan tim nasional Indonesia saat ini..
Hal tersebutlah yang mendasari pendapat saya jika kegagalan ini bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Wim. Wim memang harus bertanggung jawab sesuai dengan porsinya sebagai pelatih kepala tim nasional, akan tetapi kami seluruh pemain juga harus bertanggung jawab, karena walau bagaimanapun kami adalah pasukan yang berjibaku secara langsung di atas lapangan. Ketua Umum PSSI juga harus bertanggung jawab, mengapa..?? karena jalan atau tidaknya roda kompetisi di Indonesia ini jelas berada di tangan beliau, sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam organisasi bernama PSSI"..
Oleh karena itu, sebagai bentuk pertanggungjawaban itu, saya sangat setuju jika nantinya diadakan evaluasi menyeluruh dalam tubuh tim nasional Indonesia saat ini. Apalagi jika kita melihat penampilan tim nasional U-23 yang sangat impresif selama gelaran SEA Games yang lalu. Menurut pendapat saya pribadi, pemain-pemain muda kita sudah cukup layak untuk mulai memikul tanggung jawab membela panji-panji tim nasional senior..
Pemain-pemain seperti Titus Bonai, Patrich Wanggai, Hasim Kipaw, Diego Michiels, Egi Melgiansyah, Okto Maniani, Andik Vermansyah, Abdurrahman dan juga Kurnia Meiga rasanya sudah cukup pantas diberi kesempatan untuk naik ke kelas tim senior..
Terlepas dari kegagalan tim nasional U-23 untuk meraih emas di SEA Games karena dikalahkan Malaysia di final, menurut pendapat saya dengan materi pemain-pemain seperti mereka, rasanya masa depan sepakbola Indonesia terlihat cukuplah cerah..
Sepakbola adalah olahraga tim, oleh karena itu tidak akan pernah terjadi sebuah individu menjadi lebih penting daripada sebuah tim itu sendiri. Kita tidak akan pernah mampu memenangkan pertandingan hanya karena satu atau dua individu yang spesial. Kemenangan sebuah tim akan selalu terjadi dari hasil kinerja semua individu di dalam tim tersebut. Satu, dua individu mungkin saja tampil lebih menonjol dari individu yang lain, akan tetapi itu bukan menjadi sebuah alasan untuk tidak mengapresiasi kinerja individu-individu yang lain..
Begitu pula sebaliknya, kekalahan atau kegagalan sebuah tim tidak seharusnya juga hanya menjadi tanggung jawab beberapa individu saja. Satu, dua individu mungkin saja tampil di bawah performa terbaik mereka, akan tetapi alangkah kurang bijaksananya jika kita hanya melemparkannya semua kesalahan kepada individu-individu tersebut. 
"Bukankah sebuah tim yang baik adalah tim yang terdiri dari individu-individu yang dapat saling mendukung, saling menutupi serta saling membantu antara individu satu dengan individu yang lain"..
Oleh karena itu dalam artikel (Indonesia Masih Bisa - 2010) saya pernah menyampaikan bahwa "Kita menang sama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah bersama-sama". Maka mari kita pertanggungjawabkan kegagalan ini bersama-sama. Pelatih, pemain dan juga Ketua Umum PSSI harus berjiwa besar untuk mempertanggungjawabkan kinerja nya sesuai dengan porsinya masing-masing..
Terlepas dari itu semua bagi saya pribadi, jika pertandingan melawan Iran kemarin pada akhirnya menjadi caps terakhir saya untuk tim nasional Indonesia, maka dengan lapang dada saya dapat menerima keputusan tersebut. Akan tetapi seperti apa yang juga sempat saya kemukakan dalam konferensi pers setelah pertandingan tersebut, bahwasanya:
"Masa depan saya di tim nasional, bukan berada di tangan rekan-rekan wartawan, bukan berada di tangan para suporter di luar sana, bukan di tangan komentator di TV-TV sana, bukan juga di tangan Ketua Umum PSSI Bpk Djohar Arifin. Masa depan saya di tim nasional berada di tangan pelatih tim nasional, siapapun nantinya yang akan menjabat sebagai pelatih tim nasional Indonesia. Ketika pelatih berkata "Bambang terima kasih atas kerja samanya, saya tidak membutuhkan tenaga kamu lagi", maka dengan sendirinya karir saya di tim nasional akan selesai saat itu juga. Sesederhana itu bukan..??
Akan tetapi sebaliknya, jika pelatih tim nasional masih memanggil dan membutuhkan tenaga saya, maka sudah menjadi kewajiban saya untuk memenuhi panggilan tersebut dan tidak alasan bagi saya untuk menolaknya. Ini bukan karena serakah atau tidak tahu diri, akan tetapi hal tersebut lebih kepada apresiasi tinggi dan tanggung jawab moral saya terhadap sebuah profesi yang telah membesarkan nama saya dan membuat saya dapat berada di tempat dimana saya berdiri saat ini"..
Dan saya yakin hal tersebut juga ada di benak sahabat dan yang juga wakil saya sebagai kapten tim nasional Indonesia Firman Utina. Menjadi pemain nasional adalah impian terbesar seluruh pemain sepakbola di belahan dunia manapun, karena hal tersebut merupakan sebuah tanggung jawab, sebuah kehormatan dan juga sebuah pengabdian seorang pemain sepakbola kepada olahraga yang mereka geluti dan juga kepada negara yang mereka cintai..
Sekali lagi kegagalan ini adalah tanggung jawab kita bersama, maka dari itu mari kita hadapi semua ini bersama-sama. Kegagalan demi kegagalan akan selalu meninggalkan rasa pahit yang luar biasa, serta tidak jarang rasa frustasipun timbul disana, akan tetapi itu semua tidak seharusnya membuat kita berhenti untuk berusaha dan berhenti berjuang untuk memperbaiki dunia persepakbolaan negeri yang kita cintai ini.
Karena: "If we stop trying, that means we are no better than a coward”..