Apa itu tepat
menggunakan UANG RAKYAT?????
Bukan menjadi barang rahasia, jika banyak parpol yang
memegang kekuasaan di Senayan itu melakukan suap kepada anggotanya untuk
memilihnya menjadi anggota dewan. Mereka meminta gaji selangit, padahal kerjanya
hanya koar sana koar sini (rebutan kekuasaan). Di Indonesia ini memang banyak
partai politik, tercatat 48 parpol terakhir mengikuti pemilu 2009 silam (kalo
gk salah yaa). Di DPR RI ini, terlalu banyak polemik politik yang ada, ada
tentang bank century yang tak kunjung usai, money loundrey, wisma atlet, dan
banyak lagi. Semua dijalankan demi mendapatlkan kekuasaan yang berujung pada
kekuasaan sepenuhnya terhadap uang rakyat. Seakan orang-orang dinegeri ini
harus kekuasaan. Lihat saja Pak Anas Urbaningrum, yang membagikan duit 90an
milyar demi menjabat menjadi Ketua Umum PD (Partai Demokrat) kepada anggota
partainya. Dan ketika dia sudah menjabat, pastinya akan memikirkan uang 90
milyar itu kembali, dan akhirnya korupsi uang rakyat.
Di DPR sendiri, ada suatu badan yang tugasnya mengontrol
pengendalian uang rakyat untuk anggota dewan di Senayan. Sebut saja ini Badan
Anggaran (disingkat BaNggar), yang diketuai sekjen DPR Nining Indra Saleh, yang
beberapa waktu lalu merenowasi gedung banggar dengan uang rakyat dengan biaya
selangit. Ruang di Gedung Nusantara II DPR ini menghabiskan dana renowasi
sebesar 20, milliar. Hah? Gk salah tuh? Itu dengan uang rakyatkah?
Banyak rakyat yang tidak setuju dengan hal itu, tapi
pembangunan terus berjalan. Seperti money politic sudah benar-benar terjadi di
para anggota Dewan, kekuasaan demi hidup yang serba mewah. Fasilitas digedung
Banggar ini benar-benar super class. Kursinya saja berasal dari Jerman, yang
harga persatuannya 24 juta rupiah. Wah wah, ditambah pemborosan lain yang
dilakukan DPR, membeli suplemen vitamin dan pengharum ruangan yang super class
dan super duper mahalnya dengan uang rakyat. Belum lagi pembengkakan gaji
anggota Dewan, yang meningkat setiap tahunnya. Tapi ada sebagian anggota dewan
yang berjanji tidak ada akan memakai ruangan rapat itu. Misalnya saja dari
fraksi Partai Golkar, menurutnya barang di DPR harusnya menggunakan produk
lokal. Hal ini harus dilakukan untuk penghematan dan akan lebih baik, karena
kita juga mencintai produk lokal. Misalnya saja jika kursi anggota dewan,
buatan ukiran Jepara yang harganya jauh lebih murah tapi akan lebih indah
bukan?.
Kasus renovasi ruang
Banggar harus menjadi pelajaran bagi semua pejabat negara, baik di DPR maupun
di lembaga lain, agar berhati-hati menggunakan uang rakyat serta mencintai
produk dalam negeri. Harus ada semangat
penghematan, efisiensi dan transparansi kepada publik seluruh lembaga tinggi
negara dan pemerintah. Jangan cuma DPR saja. Badan
Kehormatan dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menyelidiki
proyek itu. Jangan sampai ada opini yang mempengaruhi BK dan BPKP.
Sebenarnya,
jika standar, renovasi itu hanya membutuhkan dana Rp 2,7 miliar. Namun,
berbagai fasilitas mewah itu disebut yang membuat biaya membengkak. Belum
dipastikan ada tidaknya penggelembungan harga dalam proyek itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar